HIDUP SEHAT DENGAN PRODUK HERBAL

Leave a comment

Ingin hidup sehat dengan mengkonsumsi produk herbal yang Insya Allah tanpa efek samping silahkan klik disini

JAMINAN KEAMANAN DAN KENYAMANAN

Kami memberikan GARANSI :

  1. Garansi 1 minggu sejak tanggal pengiriman barang, apabila :
    Anda tidak puas dengan barang pesanan anda dari segi fisik.
    Syarat :  Kondisi masih utuh (belum dibuka segelnya)
    Anda dapat me-retur kembali, dan kami ganti dengan produk yang sesuai pesanan anda.
  2. Apabila Kondisi rusak / cacat dalam pengiriman,
    kami akan mengganti dengan yang baru, Tanpa dikenakan biaya apapun.
    Syarat :  Segera memberitahukan kami via telp setelah terima barang (dalam kondisi rusak /cacat)
    – Mohon diberitahukan kepada jasa pengiriman bahwa barang tersebut rusak/cacat, agar bisa kami cek dan follow up segera dengan jasa pengiriman tersebut.
Advertisements

Panduan Bisnis Sahabat Nabi

Leave a comment

Generasi sahabat adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Dalam setiap bidang kehidupan, akan kita temukan dengan mudah profil teladannya dari golongan sahabat. Abu Bakar dikenal sebagai politisi yang santun dan penyabar. Umar bin Khatab adalah sosok negarawan ulung yang meletakkan banyak inspirasi pengelolaan pemerintahan. Kholid bin Walid adalah pakar strategi kemiliteran yang mumpuni dalam setiap medan pertempuran. Panglima musuh pun dengan penuh ketakutan melakukan klarifikasi terhadapnya, apakah benar pedang yang dibawanya adalah pedang Allah ?. Kholid hanya tersenyum ringan dan mengatakan itu hanyalah julukan yang diberikan Rasulullah kepadanya.

Begitu pula dengan kehadiran Ali bin Abi Tholib, sosok ilmuwan yang otaknya dipenuhi ide-ide brilian.  Kecerdasannya diibaratkan dengan begitu indah oleh Rasulullah SAW : “ aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menginginkan ilmu, maka datangilah lewat pintunya “.  Inilah yang menjadikan Ali bin Abi Tholib menjadi satu-satunya sahabat yang senantiasa meminta orang bertanya kepadanya . “tanyalah kepadaku … tanyailah aku ..  !“ . Subhanallah .. !

Salah satu bidang kehidupan yang dijalani para sahabat dengan prestasi gemilang adalah dunia bisnis dan perdangagan. Nama-nama seperti  Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf menjadi jaminan sekaligus branding betapa majunya usaha perdagangan sahabat pada waktu itu.  Sosok Abdurrohman Auf misalnya, mengawali usahanya di Madinah hanya dengan bekal semangat dan kesungguhan saja, hingga akhirnya benar-benar menjadi milyuner Madinah. Bahkan tidak berlebihan jika disebutkan bahwa kehadiran Abdurrahman bin Auf mengakhiri dominasi dan monopoli  kaum Yahudi di pasar Madinah. Bisa dibayangkan, dalam sebuah kesempatan saat rombongan dagang beliau sampai di Madinah, seluruh pendunduk madinah terguncang karena gemuruh suaranya. Mereka mengira angin topan bertiup dengan kencangnya, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah ; kedatangan 700 ekor unta yang penuh dengan barang dagangan Abdurrahman bin Auf !!

Sungguh decak kagum saja tidak akan pernah usai saat melihat gambaran kehebatan dan kiprah sahabat dalam dunia bisnis. Mari sejenak kita sisihkan waktu, untuk mengambil inspirasi apa yang sesungguhnya mereka lakukan, hingga mampu mengelola bisnis dengan hebat, sekaligus menjadi pendukung dakwah Rasulullah SAW yang tangguh.  Simak panduan singkatnya berikut ini :

Pertama : Jiwa Kemandirian

Kunci sukses perdagangan sahabat di mulai dari jiwa kemandirian yang luar biasa. Mereka tidak bertopang dan menggantungkan dan dari orang lain. Gambaran ini bisa kita dapatkan dengan jelas dari kisah hijrahnya Abdurrahman bin Auf. Adalah seorang jutawan Madinah bernama Sa’ad bin Rabi Al-Anshory  yang dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dengan Abdurrahman bin Auf, ia menawarkan pinjaman lunak kepada  saudaranya begitu tulus : “Saudaraku! Saya adalah salah seorang penduduk Kota Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah sebagian hartaku !!.
Lihatlah tawaran yang indah dan menjadi impian setiap pedagang benar-benar sudah ada di hadapan. Tak perlu lagi birokrasi, proposal usaha, jaminan, surat rekomendasi dan semacamnya. Pengembaliannya pun begitu lunak nyaris tanpa jangka waktu tertentu.  Namun apa jawab Abdurrahman bin Auf. Semangat dan jiwa kemandiriannya segera menolak seraya mengatakan : ” Semoga Alloh memberkahi keluarga dan hartamu, tetapi cukup tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar Madinah ? “.

Sungguh penolakan ini bukanlah kesombongan, tapi tekad dan semangat kuat untuk mandiri. Hal ini kemudian dibuktikan, bagaimana ia segera memulai kiprahnya di pasar madinah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menjadi pemasok utama barang dagangan di Madinah. Tidak berlebihan ketika  kemudian ia pun memberikan testimoni tentang keberhasilannya.

Kedua : Senantiasa mengingat Allah dan Taat Beribadah
Meskipun kesibukan dan aktifitas dagang yang luar biasa, para sahabat tidak lalai dengan kewajiban ibadah dan dzikrullah. Mereka semua dalam kondisi ruhiyah yang tangguh, tidak mudah tergoda dengan peluang-peluang dan tawaran duniawi yang berkelebat di depan mata. Begitu indah Al-Quran memuji  generasi pedagang yang mulia ini :

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan  mendirikan sembahyang, dan dari membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi guncang “ (QS An-Nuur 37)

Buktinyata, suatu ketika bahkan Abdurrahman bin Auf  pernah mengimami sholat sahabat lainnya, dan Rasulullah SAW ikut turut serta menjadi makmum-nya ! Ketika Abdurrahman bin Auf jengah dan ingin mundur, Rasulullah SAW memberi isyarat agar tetap pada tempatnya. Demikian dikisahkan dalam kitab usudul ghoba, yang ini semua memberikan gambaran bagaimana sesungguhnya kapasitas ruhiyah seorang Abdurrahman bin Auf.

Mereka para pedagang di Madinah,meyakini sepenuhnya bahwa kunci kesuksesan berdagang, sebagian besar karena memperbanyak dzikrullah dalam setiap aktifitas dagangnya. Mereka mengingat dan memahami betul panduan bisnis qurani, Allah SWT berfirman : “dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung “ (QS Jumat 10)

Ketiga : Pekerja Keras :  Mengawali  Aktifitas Dagang sepagimungkin

Para bisnisman Madinah meyakini bahwa keberkahan ada di waktu pagi hari. Karenanya mereka senantiasa memulai aktifitasnya di awal pagi, saat tubuh giat dan bersemangat.  Rasulullah SAW berdoa dalam sabdanya : “ Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi harinya “. Beliau juga senantiasa mengirim pasukan di awal pagi sebagai langkah awal kesuksesan. Seorang pedangan Madinah lainnya yang bernama Sohkr al-Ghomidi, bahkan tidak pernah mengirim agen distributor dan marketingnya untuk mulai berkeliling kecuali dimulai pada sepagi mungkin. Hal inilah yang menjadikan Sokhr sukses dalam berdagang, dan hartanya menjadi sangat banyak. Bahkan disebutkan dalam riwayat Ahmad : karena telampau banyak harta hasil perdagangannya, sampai-sampai Sokhr pun kebingungan dimana lagi ia harus menyimpan hartanya. Subhanallah ..

Keempat : Jujur dalam Berdagang

Kejujuran adalah kunci utama kesuksesan para sahabat dalam berdagang. Rasulullah SAW dalam hal ini senantiasa memandu dan mengawasi mereka dalam menjalankan aktifitas perdagangan. Tak jarang beliau langsung turun melakukan inspeksi pasar untuk mengecek ketersediaan dan kualitas barang. Beliau pun segera menegur saat ada sahabat yang mencoba berlaku curang menyembunyikan cacat barang dagangan yang dimilikinya.  Bukan hanya Rasulullah SAW, bahkan Al-Quran pun turun memberikan panduan dalam perdagangan secara umum. Lihat saja bagaimana surat Al-Muthoffifin turun menghenyakkan hati pedagang Madinah, mengkritik sebagian mereka yang masih berlaku curang tidak memenuhi timbangan dengan baik.  Dengan panduan dan pengawasan seperti inilah, para bisnisman dari golongan sahabat tumbuh mengembangkan bisnisnya tanpa melanggar prinsip kepatuhan syar’i.

Kelima : Tidak mengambil banyak Untung

Salah satu yang membuat tertarik pembeli adalah barang yang murah. Para sahabat mengetahui persis hal ini dan menjadikan sebagai strategi inti dalam perdagangannya. Adalah Abdurrahman bin Auf yang secara gamblang membocorkan rahasia kesuksesannya dalam masalah ini. Disebutkan dalam Kitab Ihya Ulumuddin imam Al-Ghozali, suatu ketika Abdurrahman bin Auf ditanya : “ Apa sebab kemudahanmu dalam berdagang ? “. Maka ia menjawab : “ ada tiga hal saja. Pertama: Aku tidak pernah menolak tawaran untung meskipun sedikit, Kedua : Aku tidak pernah menunda-nunda pesanan satu hewan pun. Ketiga : Aku tidak menjual dengan cara riba “. Dikisahkan pula bahwa suatu hari Abdurrahman bin Auf pernah menjual seribu ekor unta dan hanya mengambil untung harga seutas tali onta dari setiap unta yang terjual. Meskipun harga tali onta itu hanya satu dirham, tapi karena ia menjual 1000 ekor unta, maka seharian itu ia mendapatkan untung seribu dirham ! Subhanallah …

Keenam : Memperluas Wilayah  Pemasaran

Sejak dulu para sahabat tidak berkutat di Madinah dalam menjalankan aktifitas dagangnya. Bahkan kebiasaan Qurays di Mekkah pun sejak jaman jahiliyah adalah melakukan perjalanan dagang ekspor impor dua kali dalam setiap tahunnya, yaitu ke Yaman dan Syam. Begitu pula para sahabat usahawan di Madinah, mereka meyakini sepenuhnya bahwa rejeki Allah tersebar di bumi yang luas ini. Karenanya, bidang ekspor dan impor sejak awal telah mereka garap dengan serius dan mengantarkan kesuksesan mereka dalam berdagang.  Inspirasi qurani yang senantiasa mereka ambil adalah : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya” (QS Al Mulk 15)

Ketujuh : Saling bersinergi dan bekerja sama antar usahawan

Kunci sukses sahabat dalam bisnis berikutnya adalah memelihara lingkungan yang kondusif dalam berbisnis. Mereka tidak mengenal istilah kongkalingkong, sikut kanan dan sikut kiri dalam berbisnis, tapi justru sebaliknya tercipta kerja sama dalam saling sinergi yang sangat positif untuk mengembangkan bisnis. Rasulullah SAW sejak awal telah berperan besar dalam menciptakan kelangsungan pasar yang sehat di Madinah. Beliau memberlakukan sekian aturan kompetisi yang sehat dan dinamis, antara lain larangan bagi penjual untuk menawarkan dagangan kepada buyer yang telah menawar dagangan penjual lain. Begitu pula larangan monopoli perdagangan dengan melakukan upaya penimbunan barang langka agar bisa segera naik harganya saat hilang di pasaran. Semua aturan ini tanpa disadari menjadikan iklim usaha di Madinah begitu kondusif dan dinamis.

Kedelapan: Menjalankan Corporate Sosial Responsibility dengan tangguh

Inilah kunci kesuksesan akhir yang begitu tergambar di hadapan kita. Para usahawan dari golongan sahabat tidak hanya berdagang untuk diri sendiri, tapi juga menjalankan kewajiban berbagi dan mensukseskan program-program positif pemerintah. Utsman bin Affan memberikan contoh nyata, dalam mensponsori mobilisasi kaum muslimin dalam perang Tabuk yang membutuhkan pendanaan luar biasa. Disebutkan pada hari itu, Utsman bin Affan menginfakkan setidaknya 900 ekor unta lengkap dengan peralatan perangnya, 100 kuda perang, 200 kantong emas plus uang cash sebesar 1000 dinar. Sungguh jumlah yang amat besar dan mengagumkan Rasulullah SAW hingga beliau pun berujar : “ Sungguh tidak ada lagi yang akan membahayakan Utsman setelah hari ini “.

Kiprah Abdurrahman bin Auf  juga tidak kalah hebatnya. Beliau senantiasa membantu keperluan sahabat sampai akhir hidupnya. Tercatat dalam kitab Usudul Ghoba, bagaimana total sedekah beliau saat beliau masih hidup sebanyak 80.000 dinar, sedekah berupa onta perang sebanyak 1000 ekor, menyediakan tanah bagi istri-istri Rasulullah senilai 40.000 dinar . Bukan itu saja, ketika beliau wafat pun mewasiatkan banyak harta untuk sedekah antara lain : untuk keperluan fi sabilillah sebesar 50.000 dinar, untuk tunjangan veteran perang badar sebesar 40.000 dinar, berwasiat kendaraan dan perlengkapan logistik perang  berupa unta 1000 ekor, kuda 100 ekor dan kambing 1300 ekor. Sungguh luar biasa. Dana ratusan milyar dianggarkan secara khusus untuk berbagi dengan yang lainnya.

Akhirnya, sekali lagi decak kagum tidak akan pernah cukup untuk mengapresiasi kehebatan strategi bisnis para sahabat yang mulia. Mari bersama berusaha menjalankannya sekuat tenaga, agar lebih berkah kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allah SWT memudahkan.

Sumber dikutip dari : http://www.indonesiaoptimis.com/2010/10/panduan-bisnis-hebat-ala-sahabat-bagian.html

Belajar dari Kehidupan Finansial Rasulullah

Leave a comment

Ada yang bilang bahwa Nabi SAW itu miskin, tapi ada yang bilang ia kaya. Manakah yang benar?  Rasulullah SAW pernah mengalami masa kaya raya, biasa-biasa saja, sampai masa sulit sekalipun. Sehingga kita selalu bisa mengambil contoh. Yang dicontoh bukan kaya atau miskinnya, tapi kita teladani sikapnya ketika berkelimpahan, maupun saat kekurangan. Saat miskin, ia tetap sabar dan menjaga kehormatan, tak pernah meminta-minta. Bahkan perutnya pernah diganjal batu agar tetap tegak dengan perut kosong. Saat kaya raya, Rasulullah sedekah luar biasa sampai ada yang bilang “Ia memberi seperti orang yang tidak takut miskin”. Dalam kondisi biasa, ia hidup bersahaja walau sebagai kepala negara. Tidurnya pun di atas pelepah kurma yang berbekas di punggungnya.

Darimana Nabi mendapatkan penghasilannya? Dan dikemanakan saja hartanya?

Di usia 12 tahun, Nabi SAW sudah mulai berdagang dengan magang pada pamannya yang memeliharanya sejak orang tua dan kakeknya tiada. Di usia 9 tahun pun ia sudah mulai menggembalakan kambing orang lain. Ia termasuk yang dipercaya oleh penduduk Mekkah kala itu. Di usia 17 tahun, beliau memutuskan untuk memulai bisnis sendiri karena pamannya mempunyai banyak anak dan kebutuhan. Jadi ia berdagang sendiri sejak itu.

Julukan al-Amin (yang dipercaya) diperolehnya dari mitra bisnis dan penduduk Mekah karena perilakunya yang terpercaya, tidak pernah bohong. Beliau sebagai mudharib (pengelola aset) dari para pemodal yaitu orang-orang kaya di Mekah dan mengelola harta anak yatim yang dikembangkan. Bukan cuma berdagang di Mekah, perdagangan internasional ke hampir seluruh semenanjung Arab juga dilakoninya pada usia masih sangat muda. Bisnisnya ini memegang peranan besar dalam dakwahnya nanti. Sifat jujurnya sebagai pengusaha menjadi modal besar dalam dakwah awal di Mekah. Wawasannya yang luas karena pengalaman bisnisnya pun memudahkannya dalam berinteraksi dengan objek dakwah dari negeri lain. Pernah pula seorang pendeta ahli kitab melihat tanda kenabian padanya saat perjalanan dagang dengan pamannya di usia remaja.

Saat mengelola bisnis Khadijah, beliau mendapatkan keuntungan sampai dua kali lipat dari pedagang lainnya, sampai diberikan bonus dan mendapatkan perhatian khusus. Khadijah mengutus orang lain untuk mengamati Muhammad, kenapa ia bisa untung besar dibanding pedagang lainnya. Muhammad adalah pedagang yang jujur dan amanah. Ia memeegang erat janjinya. Tak ikut-ikutan dan terpengaruh dengan pegadang lain yang berpesta untuk merayakan kesuksesan mereka. Hal itu menguatkan Khadijah untuk “bersinergi” secara bisnis maupun pribadi. Maka disampaikan maksudnya dan berjodohlah mereka. Bisnisnya, menguatkan perjodohannya, bukan sebaliknya, menikahi orang kaya buat melancarkan bisnis.

Bagaimana kehidupan finansialnya setelah itu?

Rasulullah sudah menggembala kambing dan berdagang sejak muda, serta mandiri di usia 17 tahun. Karena  interaksinya sebagai pengusaha yang jujur dan tidak pernah bohong, ia dijuluki al-Amin oleh penduduk Mekkah. Ini sangat membantu dakwah beliau.

Usahanya yg membuahkan hasil besar dan akhlaknya yang mulia, menjadi modal awal “merger” secara bisnis dan pribadi dengan Khadijah, sebagai pemodalnya. Bisnisnya menguatkan dakwahnya, bukannya dakwah buat kepentingan bisnis. Bisnisnya menguatkan perjodohannya, bukannya berjodoh demi bisnis.

Di usia 12, Rasulullah jadi employee, bekerja pada pamannya. Usia 17thn menjadi self-employed menjadi manager bisnis dari pemodal. Di usia 25 tahun, beliau menjadi businessman. Berbisnis sampai usia 37 tahun. Usia 37 tahun, Nabi mulai mengurangi kegiatan bisnis dan banyak memikirkan masalah sosial kemasyarakatan serta menyendiri ke gua Hira. Sampai kemudian di usia 40 tahun beliau meneriwa wahyu pertama dan mendapatkan perintah untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Pada usia 40 tahun ini, beliau diangkat menjadi Rasul. Beliau memulai dakwahnya secara tertutup. Setelah dakwah terbuka, pengikutnya bertambah, tapi yang menentang juga banyak. Sampai kemudian mendapatkan perintah untuk berhijrah. Hijrah dilakukan secara bertahap dan sembunyi-sembunyi, meninggalkan kehidupan dan harta di Mekkah demi menjalankan perintah-Nya.

Setelah hijrah, para muhajirin harus memulai kehidupan finansialnya dari NOL kembali karena tak banyak harta yang dibawa. Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah mempersaudarakan muhajirin (pendatang) dan anshar (lokal) agar terbantu secara finansial. Setelah bangun masjid, pasar pun dibangun di Madinah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi juga harus diperhatikan. Sebelum pasar dibuka, para sahabat bukan sibuk promosi dan launching. Tapi sibuk bertaubat, karena taubat adalah salah satu pintu rezeki. Meskipun start dari NOL setelah  hijrah, banyak sahabat yang kaya dari berdagang dan juga perkebunan (properti). Incomenya sebagai kepala negara adalah dari hasil perang, zakat, pajak, dll yang sangat besar. Meskipun begitu, beliau memiilih untuk tetap hidup sederhana. Beliau shalat dengan khusyu’ walau setumpuk rampasan perang dikumpulkan di belakangnya. Setelah shalat, beliau berbalik sambil tetap duduk, membagikan semua harta tersebut dan tidak bangun berdiri sebelum semua hartanya habis. Sampai-sampai ada kepala suku yang berkata “Ia memberi seperti tak takut miskin” sambil mengajak sukunya tuk masuk Islam.

Di periode Madinah ini banyak aturan muamalat yang turun, yaitu larangan riba dan pola bisnis yang haram. Bahkan Rasulullah mengecek langsung di pasar. Nabi cek sendiri di pasar. Jangan mencampur barang kualitas baik dengan yang buruk. Penghapusan riba hutang, dll.

Sebelum wafat, beliau menghibahkan harta untuk keluarga dan sedekah untuk dhuafa. Tidak meninggalkan harta waris. Harta bukan tujuan hidupnya, ia menolak sogokan emas dari Quraisy. Meskipun begitu, kekuatan finansial tetap harus dimiliki agar bisa hidup mandiri.

Disusun ulang dari Kultwit Ahmad Gozali

Sumber dikutip dari : http://www.fimadani.com/kehidupan-finansial-rasulullah/

Langkah Awal Berwirausaha

Leave a comment

Sunnatullah 

Tahapan adalah sebuah sunnatullah (ketetapan Allah) dalam bekerja, baik yang tertulis dalam Al Quran maupun yang tidak tertulis dalam sunnatullah kauniyah. Ketika Allah menciptakan alam semesta, meciptakan bayi dalam kandungan, atau ketika Allah melarang minuman khamr. Semua ditetapkan secara bertahap. Padahal Allah mampu menciptakan dalam sekejap. Begitulah kiranya Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa kalau bekerja haruslah bertahap.

Begitu pula ketika kita ingin menjadi seorang wirausahawan, maka ada tahap tahap yang harus kita lalui, apalagi kita seorang muslim dan mukmin, maka sudah sewajarnya kita mematuhi sunnatullah tahapan ini. Jika dilanggar dengan tidak memakai tahapan, mungkin saja bisa berhasil menjadi pengusaha dan mendapat uang banyak, tetapi bisa dipastikan uang yang didapat tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Berarti orang itu hanya sekedar mencari uang, bukan mencari kebahagiaan diri dan orang lain.

Arti Wirausaha yang lebih Luas

Jika kita artikan wirausaha itu secara lebih luas, wirausaha adalah: kemampuan seseorang untuk membantu atau melayani diri sendiri serta orang lain secara mandiri. Maka orang itu berupaya untuk melepaskan ketergantungan dari orang lain atau minimal tidak menjadi benalu (menyusahkan) pada orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik berarti dia mampu tidak merepotkan orang lain, secara psikis dia mampu tidak menjadi beban fikiran atau bahan gunjingan orang lain.

Kemandirian tidak harus diartikan dengan uang. Karena bisa saja orang tidak tidak berpenghasilan, tetapi memang mempunyai hak dari orang lain, seperti istri mempunyai hak dari suami, atau anak mempunyai hak dari orang tuanya. Tetapi sehari-harinya bisa bekerja melayani dan membantu diri sendiri dan orang lain, maka orang itu bisa disebut mandiri.

Begitu pula sebaliknya mungkin saja dia punya penghasilan banyak tetapi prilakunya menyusahkan orang lain, atau menambah beban fikiran orang lain, maka orang itu belum dianggap mandiri. (Lihatlah sekarang para penghutang ingin minta dihapus hutannya senilai 60 trilyun) ini namanya membuat orang lain susah.

Langkah Awal yang Wajib dilalui

Karena itulah mari kita mulai melangkah dari awal, jika kita ingin memulai sesuatu apa saja, jika ditengah jalan ada peluang untuk melangkah lebih cepat bisa saja, tetapi tidak melompat meninggalkan tangga tangga urutan tahapannya. Adapun langkah awal itu adalah sebagai berikut :

  1. Totalitas hidup ibadah, jadwal harian melebur, mengikuti jadwalnya Allah
  2. Tidur tidak larut malam, kecuali keadaan darurat sepeti ada musibah, menolong bencana dsb.
  3.  Bangun sebelum subuh secara mandiri, (tidak dibangunkan orang lain)  sehingga bisa Qiyamullail walau sedikit.
  4. Dilarang, tidak boleh, aib/pamali, pantang tidur setelah subuh
  5. Mengerjakan pekerjaan rumah antara subuh s/d jam mulai keluar rumah
  6. Merapihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, merapihkan barang sendiri.
  7. Tidak terlambat masuk kerja, walaupun kantornya punya sendiri serta serius dalam bekerja.
  8. Menikmati pekerjaan, karena ibadah, dakwah, jihad, hobi, maisyah, ta’awun, amal jariyah,
  9. Shalat, dzikir, du’a adalah jadwal utama, sementara aktifitas lain harus menyesuaikan waktunya.
  10. Hiburan bukan candu, tapi selingan jadi sejenak saja, pandai mengendalikan sarana hidup.
  11. Harus  ada waktu perhatian, untuk diri, keluarga, tetangga, masjidnya, kampung dst.
  12. Mengurus dokumen pribadi sendiri, seperti KTP, SIM, STNK, Listrik, PBB, administrasi lainnya.
  13. Menjaga kesehatan dan stamina tubuh, supaya tidak mudah sakit.
  14. Terus berlatih seni management waktu. Jangan sampai satu detik hilang tanpa perencanaan.
  15. Sensitif dan sangat mengenal siapa si pencuri waktu.
  16. Menghidari tongkrongan, kongkow-kongkow, ketawa ketiwi, nyeletuk-nyletuk, yang hanya menghabiskan waktu.
  17. Malu melakukan aktifitas murahan yang tidak menambah iman, ilmu dan income.
  18. Gengsi melakukan tidakan tercela, karena harga diri, apalagi  perbuatan dosa.
  19. Menyeleksi teman jangan sampai mengangkat si pencuri waktu sebagai teman.
  20. Memilih lingkungan dan sarana hidup yang bisa dikendalikan bukan sebaliknya.
  21. Banyak silaturrahiim, untuk memperbanyak teman dan koneksi serta jaringan.
  22. Siap dan mudah bekerja sama dengan siapapun serta pandai bergaul..
  23. Konsentrasi penuh ditempat banyak orang berkumpul/bertemu karena disitulah banyak berdar uang.
  24. Sering  mencari kerumunan, kumpulnya banyak orang atau event-even yang mengundang banyak orang.
  25. Sering berjalan dipasar dan mengamati dengan serius prilaku orang dipasar.
  26. Mengasah senstifitas untuk melihat berbagai macam peluang dan kesempatan.
  27. Tidak malu bertanya atau meminta saran kepada siapapun
  28. Tidak takut dikeritik, malah merindukannya, agar terus melakukan perubahan tanpa henti.
  29. Tidak suka mencari kambing hitam, selalu lari kedalam dirinya, karena dia percaya diri, segala sesuatunya datang dari keputusan sendiri. Maka pantang menyalahkan orang lain.
  30. Kecepatan dalam mengevaluasi, senang dengan umpan balik, tindakan perbaikan ketika terjadi kesalahan.
  31. Sangat sengang dan selalau berupaya untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dengan banyak pelatihan, belajar, bertanya, magang serta terus dan terus mencoba…
  32. Ucapan ”Bismillah” bukan basa basi, berarti sekarang juga mulai tidak ada kata tunda.
  33. Mengambil inisiatif, tidak ikut ikutan,  menunggu si fulan, menunggu disuruh, diarahkan, atau ditegur.
  34. Siap tempur dengan musuh bebuyutan, kangker ganas, yaitu kata  “tunda”
  35. Bekerja keras, banting tulang, peras keringat, jungkir ballik, ulet, tekun, sabar, pantang mengeluh dan tidak lebay
  36. Melihat setiap ada masalah pasti ada peluang, setiap ada kesulitan pasti akan muncul kemudahan.
  37. Berupaya mengatasi dan menyelesaikan kesulitan dan persoalan-persoalan nya sendiri.
  38. Memperbaiki kerusakan kecil di rumahnya sendiri, seperti atap bocor, keran rusak, lampu mati, saklar rusak, dan sebagainya
  39. Tidak ada waktu yang lost control walau satu detik, semua sudah direncanakan. Sekecil apapun harus bekerja, tidak boleh berhenti, kecuali memang waktu istirahat dan kebutuhan darurat.
  40. Bukan entrepreuneur namanyaa jika dalam hari hari masih ada kata “ Bingung apa yang harus dikerjakan” atau memang tidak teragenda sebelumnya jadi bingung. Nah loh..?
  41. Wirausahawan berarti juga seorang  “visioner” ciri yang sangat jelas adalah “Kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”. Sangat aneh jika masih banyak hiburannya.
  42. Hidup berencana, berarti punya buku agenda harian bertanggal.
  43. Peka dan peduli terhadap keadaan diri  dan lingkungan sekitar’
  44. Cinta kebersihan, keindahan diri, rumah, lingkungan dan mengajak orang lain..
  45. Penghematan dalam segala hal  termasuk listrik, air, gas dan sebagainyal.
  46. Menyiapkan segala resiko yang akan dihadapi,  terpahit sekalipun.
  47. Tujuan dan proses sama pentingnya sehingga tidak menyepelekan keduanya.
  48. Tawakkal penuh, pasrah total, du’a senjata utama, Berbaik sangka keapada Allah.
  49. Sehingga tidak ada kamus, nyerah, kapok, bosen, bt, berhenti, letih dan sebagainya.
  50. Modal Utama dalam bisnis bukan “uang”  tetapi keyakinan, kreatifitas, kerja keras, koneksi dan jaringan..
  51. Memulai dari modal seadanya, akal fikiran, panca indra, keterampilan, saran dan fasilitas disekitar kita, SDA dan SDM disekitar kita, jaringan yang sudah kita miliki.

Itulah langkah-langkah awal (dasar) yang harus dikerjakan dan dipenuhi jika mereka ingin menjadi seorang wirausahawan muslim sejati. Kalau mau lebih cepat dengan langkah berikutnya boleh saja asal langkah-langkah awal (dasar) ini tidak ditinggalkan. Penulis yakin jika langkah-langkah awal ini semuanya dilaksanakan, insyaAllah kemungkinan besar akan berhasil menjadi wirausahawan muslim sejati.

Jangan berbasa basi dengan ucapan “bismillaah”, jika Anda mengucapkan kalimat basmalah, berarti tidak ada kata “tunda” lagi. Selamat mencoba, semoga Anda menjadi orang sukses dunia akhirat. Amin

Pimpinan Assyifa Boarding School ini juga aktif sebagai aktivis sosial. Mendedikasikan hidupnya dan keluarganya untuk memberikan manfaat pada banyak orang. Telah dikaruniai 6 orang anak.

Nabi Juga Seorang Enterpreneur

Leave a comment

Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”

Rahasia keberhasilan dalam perdagangan adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi contoh yang terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad telah berdagang –sebagai agen Khadijah- ke Syria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lainnya. Dalam perdagangan-perdagangan ini, Muhammad mendapatkan keuntungan yang melebihi dugaan. Tidak sepeser pun yang digelapkan dan tidak sesen pun yang dihilangkan oleh Nabi.

Banyak agen yang sebelumnya bekerja dengan Khadijah, namun tak seorangpun yang bekerja lebih memuaskan dibandingkan dengan Muhammad. Rasulullah memiliki sifat jujur, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang yang luar biasa sampai-sampai Khadijah jatuh hati kepadanya. Jika tidak karena pribadi Muhammad yang luar biasa, tidak mungkin seorang perempuan kaya raya seperti Khadijah memberanikan diri untuk melamar Muhammad.

Sudah kita kenal bahwa perdagangan (berwirausaha) merupakan induk keberuntungan. Sejarah bangsa-bangsa di dunia juga memperlihatkan bagaimana dengan berdagang dan berniaga, orang bisa menjadi kaya dan bangsa-bangsa tersebut mendapatkan wilayah yang sangat luas diseluruh dunia. Dengan demikian, perdagangan merupakan pertanda baik bagi kesejahteraan yang menjadi tulang punggung untuk memperoleh kekayaan. Nabi pernah berkata: ”Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”

Didalam Al Quran juga dipertegas oleh Allah: ”Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS An Naba’ : 11)Ini merupakan petunjuk untuk berdagang dan beberapa bentuk kegiatan lain agar seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Allah dalam Al Quran juga memberikan motivasi untuk berdagang pada ayat berikut: ”Tidak ada dosa atas kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuhanmu” …”Bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah rahmat Allah.” (Qs. Al Jumu’ah: 60). ”Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275). Rasulullah bersabda: ”Mencari penghasilan halal merupakan suatu tugas wajib.”

Abu Bakar As Shidiq, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang pakaian. Umar bin Khattab, pemimpin kaum beriman sang penakluk kekaisaran Persia dan Byzantium memiliki usaha dagang Jagung. Usman memiliki usaha memiliki usaha dagang bahan pakaian. Imam Abu Hanifah memiliki usaha dagang bahan pakaian. Kaisar Mughal yang Agung Aurangzeb dari India makan dari penghasilan cangkir-cangkir buatan tangannya sendiri. Ketika para pengikut nabi hijrah ke Madinah bersama-sama Nabi, mereka dinasehati oleh Rasul agar berdagang untuk penghidupan mereka. Banyak lagi contoh yang membuktikkan bahwa setiap Muhajjir yang saleh telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkahnya sehari-hari. Wallahua’lam

Oleh: Edo Segara – Yogyakarta
CEO Youth EnterPrise (Publishing, Ritel & Waralaba)

Sumber dikutip dari : http://www.fimadani.com

%d bloggers like this: