Belajar dari Kehidupan Finansial Rasulullah

Leave a comment

Ada yang bilang bahwa Nabi SAW itu miskin, tapi ada yang bilang ia kaya. Manakah yang benar?  Rasulullah SAW pernah mengalami masa kaya raya, biasa-biasa saja, sampai masa sulit sekalipun. Sehingga kita selalu bisa mengambil contoh. Yang dicontoh bukan kaya atau miskinnya, tapi kita teladani sikapnya ketika berkelimpahan, maupun saat kekurangan. Saat miskin, ia tetap sabar dan menjaga kehormatan, tak pernah meminta-minta. Bahkan perutnya pernah diganjal batu agar tetap tegak dengan perut kosong. Saat kaya raya, Rasulullah sedekah luar biasa sampai ada yang bilang “Ia memberi seperti orang yang tidak takut miskin”. Dalam kondisi biasa, ia hidup bersahaja walau sebagai kepala negara. Tidurnya pun di atas pelepah kurma yang berbekas di punggungnya.

Darimana Nabi mendapatkan penghasilannya? Dan dikemanakan saja hartanya?

Di usia 12 tahun, Nabi SAW sudah mulai berdagang dengan magang pada pamannya yang memeliharanya sejak orang tua dan kakeknya tiada. Di usia 9 tahun pun ia sudah mulai menggembalakan kambing orang lain. Ia termasuk yang dipercaya oleh penduduk Mekkah kala itu. Di usia 17 tahun, beliau memutuskan untuk memulai bisnis sendiri karena pamannya mempunyai banyak anak dan kebutuhan. Jadi ia berdagang sendiri sejak itu.

Julukan al-Amin (yang dipercaya) diperolehnya dari mitra bisnis dan penduduk Mekah karena perilakunya yang terpercaya, tidak pernah bohong. Beliau sebagai mudharib (pengelola aset) dari para pemodal yaitu orang-orang kaya di Mekah dan mengelola harta anak yatim yang dikembangkan. Bukan cuma berdagang di Mekah, perdagangan internasional ke hampir seluruh semenanjung Arab juga dilakoninya pada usia masih sangat muda. Bisnisnya ini memegang peranan besar dalam dakwahnya nanti. Sifat jujurnya sebagai pengusaha menjadi modal besar dalam dakwah awal di Mekah. Wawasannya yang luas karena pengalaman bisnisnya pun memudahkannya dalam berinteraksi dengan objek dakwah dari negeri lain. Pernah pula seorang pendeta ahli kitab melihat tanda kenabian padanya saat perjalanan dagang dengan pamannya di usia remaja.

Saat mengelola bisnis Khadijah, beliau mendapatkan keuntungan sampai dua kali lipat dari pedagang lainnya, sampai diberikan bonus dan mendapatkan perhatian khusus. Khadijah mengutus orang lain untuk mengamati Muhammad, kenapa ia bisa untung besar dibanding pedagang lainnya. Muhammad adalah pedagang yang jujur dan amanah. Ia memeegang erat janjinya. Tak ikut-ikutan dan terpengaruh dengan pegadang lain yang berpesta untuk merayakan kesuksesan mereka. Hal itu menguatkan Khadijah untuk “bersinergi” secara bisnis maupun pribadi. Maka disampaikan maksudnya dan berjodohlah mereka. Bisnisnya, menguatkan perjodohannya, bukan sebaliknya, menikahi orang kaya buat melancarkan bisnis.

Bagaimana kehidupan finansialnya setelah itu?

Rasulullah sudah menggembala kambing dan berdagang sejak muda, serta mandiri di usia 17 tahun. Karena  interaksinya sebagai pengusaha yang jujur dan tidak pernah bohong, ia dijuluki al-Amin oleh penduduk Mekkah. Ini sangat membantu dakwah beliau.

Usahanya yg membuahkan hasil besar dan akhlaknya yang mulia, menjadi modal awal “merger” secara bisnis dan pribadi dengan Khadijah, sebagai pemodalnya. Bisnisnya menguatkan dakwahnya, bukannya dakwah buat kepentingan bisnis. Bisnisnya menguatkan perjodohannya, bukannya berjodoh demi bisnis.

Di usia 12, Rasulullah jadi employee, bekerja pada pamannya. Usia 17thn menjadi self-employed menjadi manager bisnis dari pemodal. Di usia 25 tahun, beliau menjadi businessman. Berbisnis sampai usia 37 tahun. Usia 37 tahun, Nabi mulai mengurangi kegiatan bisnis dan banyak memikirkan masalah sosial kemasyarakatan serta menyendiri ke gua Hira. Sampai kemudian di usia 40 tahun beliau meneriwa wahyu pertama dan mendapatkan perintah untuk menyampaikan wahyu Ilahi. Pada usia 40 tahun ini, beliau diangkat menjadi Rasul. Beliau memulai dakwahnya secara tertutup. Setelah dakwah terbuka, pengikutnya bertambah, tapi yang menentang juga banyak. Sampai kemudian mendapatkan perintah untuk berhijrah. Hijrah dilakukan secara bertahap dan sembunyi-sembunyi, meninggalkan kehidupan dan harta di Mekkah demi menjalankan perintah-Nya.

Setelah hijrah, para muhajirin harus memulai kehidupan finansialnya dari NOL kembali karena tak banyak harta yang dibawa. Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah mempersaudarakan muhajirin (pendatang) dan anshar (lokal) agar terbantu secara finansial. Setelah bangun masjid, pasar pun dibangun di Madinah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi juga harus diperhatikan. Sebelum pasar dibuka, para sahabat bukan sibuk promosi dan launching. Tapi sibuk bertaubat, karena taubat adalah salah satu pintu rezeki. Meskipun start dari NOL setelah  hijrah, banyak sahabat yang kaya dari berdagang dan juga perkebunan (properti). Incomenya sebagai kepala negara adalah dari hasil perang, zakat, pajak, dll yang sangat besar. Meskipun begitu, beliau memiilih untuk tetap hidup sederhana. Beliau shalat dengan khusyu’ walau setumpuk rampasan perang dikumpulkan di belakangnya. Setelah shalat, beliau berbalik sambil tetap duduk, membagikan semua harta tersebut dan tidak bangun berdiri sebelum semua hartanya habis. Sampai-sampai ada kepala suku yang berkata “Ia memberi seperti tak takut miskin” sambil mengajak sukunya tuk masuk Islam.

Di periode Madinah ini banyak aturan muamalat yang turun, yaitu larangan riba dan pola bisnis yang haram. Bahkan Rasulullah mengecek langsung di pasar. Nabi cek sendiri di pasar. Jangan mencampur barang kualitas baik dengan yang buruk. Penghapusan riba hutang, dll.

Sebelum wafat, beliau menghibahkan harta untuk keluarga dan sedekah untuk dhuafa. Tidak meninggalkan harta waris. Harta bukan tujuan hidupnya, ia menolak sogokan emas dari Quraisy. Meskipun begitu, kekuatan finansial tetap harus dimiliki agar bisa hidup mandiri.

Disusun ulang dari Kultwit Ahmad Gozali

Sumber dikutip dari : http://www.fimadani.com/kehidupan-finansial-rasulullah/

Langkah Awal Berwirausaha

Leave a comment

Sunnatullah 

Tahapan adalah sebuah sunnatullah (ketetapan Allah) dalam bekerja, baik yang tertulis dalam Al Quran maupun yang tidak tertulis dalam sunnatullah kauniyah. Ketika Allah menciptakan alam semesta, meciptakan bayi dalam kandungan, atau ketika Allah melarang minuman khamr. Semua ditetapkan secara bertahap. Padahal Allah mampu menciptakan dalam sekejap. Begitulah kiranya Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa kalau bekerja haruslah bertahap.

Begitu pula ketika kita ingin menjadi seorang wirausahawan, maka ada tahap tahap yang harus kita lalui, apalagi kita seorang muslim dan mukmin, maka sudah sewajarnya kita mematuhi sunnatullah tahapan ini. Jika dilanggar dengan tidak memakai tahapan, mungkin saja bisa berhasil menjadi pengusaha dan mendapat uang banyak, tetapi bisa dipastikan uang yang didapat tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Berarti orang itu hanya sekedar mencari uang, bukan mencari kebahagiaan diri dan orang lain.

Arti Wirausaha yang lebih Luas

Jika kita artikan wirausaha itu secara lebih luas, wirausaha adalah: kemampuan seseorang untuk membantu atau melayani diri sendiri serta orang lain secara mandiri. Maka orang itu berupaya untuk melepaskan ketergantungan dari orang lain atau minimal tidak menjadi benalu (menyusahkan) pada orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik berarti dia mampu tidak merepotkan orang lain, secara psikis dia mampu tidak menjadi beban fikiran atau bahan gunjingan orang lain.

Kemandirian tidak harus diartikan dengan uang. Karena bisa saja orang tidak tidak berpenghasilan, tetapi memang mempunyai hak dari orang lain, seperti istri mempunyai hak dari suami, atau anak mempunyai hak dari orang tuanya. Tetapi sehari-harinya bisa bekerja melayani dan membantu diri sendiri dan orang lain, maka orang itu bisa disebut mandiri.

Begitu pula sebaliknya mungkin saja dia punya penghasilan banyak tetapi prilakunya menyusahkan orang lain, atau menambah beban fikiran orang lain, maka orang itu belum dianggap mandiri. (Lihatlah sekarang para penghutang ingin minta dihapus hutannya senilai 60 trilyun) ini namanya membuat orang lain susah.

Langkah Awal yang Wajib dilalui

Karena itulah mari kita mulai melangkah dari awal, jika kita ingin memulai sesuatu apa saja, jika ditengah jalan ada peluang untuk melangkah lebih cepat bisa saja, tetapi tidak melompat meninggalkan tangga tangga urutan tahapannya. Adapun langkah awal itu adalah sebagai berikut :

  1. Totalitas hidup ibadah, jadwal harian melebur, mengikuti jadwalnya Allah
  2. Tidur tidak larut malam, kecuali keadaan darurat sepeti ada musibah, menolong bencana dsb.
  3.  Bangun sebelum subuh secara mandiri, (tidak dibangunkan orang lain)  sehingga bisa Qiyamullail walau sedikit.
  4. Dilarang, tidak boleh, aib/pamali, pantang tidur setelah subuh
  5. Mengerjakan pekerjaan rumah antara subuh s/d jam mulai keluar rumah
  6. Merapihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, merapihkan barang sendiri.
  7. Tidak terlambat masuk kerja, walaupun kantornya punya sendiri serta serius dalam bekerja.
  8. Menikmati pekerjaan, karena ibadah, dakwah, jihad, hobi, maisyah, ta’awun, amal jariyah,
  9. Shalat, dzikir, du’a adalah jadwal utama, sementara aktifitas lain harus menyesuaikan waktunya.
  10. Hiburan bukan candu, tapi selingan jadi sejenak saja, pandai mengendalikan sarana hidup.
  11. Harus  ada waktu perhatian, untuk diri, keluarga, tetangga, masjidnya, kampung dst.
  12. Mengurus dokumen pribadi sendiri, seperti KTP, SIM, STNK, Listrik, PBB, administrasi lainnya.
  13. Menjaga kesehatan dan stamina tubuh, supaya tidak mudah sakit.
  14. Terus berlatih seni management waktu. Jangan sampai satu detik hilang tanpa perencanaan.
  15. Sensitif dan sangat mengenal siapa si pencuri waktu.
  16. Menghidari tongkrongan, kongkow-kongkow, ketawa ketiwi, nyeletuk-nyletuk, yang hanya menghabiskan waktu.
  17. Malu melakukan aktifitas murahan yang tidak menambah iman, ilmu dan income.
  18. Gengsi melakukan tidakan tercela, karena harga diri, apalagi  perbuatan dosa.
  19. Menyeleksi teman jangan sampai mengangkat si pencuri waktu sebagai teman.
  20. Memilih lingkungan dan sarana hidup yang bisa dikendalikan bukan sebaliknya.
  21. Banyak silaturrahiim, untuk memperbanyak teman dan koneksi serta jaringan.
  22. Siap dan mudah bekerja sama dengan siapapun serta pandai bergaul..
  23. Konsentrasi penuh ditempat banyak orang berkumpul/bertemu karena disitulah banyak berdar uang.
  24. Sering  mencari kerumunan, kumpulnya banyak orang atau event-even yang mengundang banyak orang.
  25. Sering berjalan dipasar dan mengamati dengan serius prilaku orang dipasar.
  26. Mengasah senstifitas untuk melihat berbagai macam peluang dan kesempatan.
  27. Tidak malu bertanya atau meminta saran kepada siapapun
  28. Tidak takut dikeritik, malah merindukannya, agar terus melakukan perubahan tanpa henti.
  29. Tidak suka mencari kambing hitam, selalu lari kedalam dirinya, karena dia percaya diri, segala sesuatunya datang dari keputusan sendiri. Maka pantang menyalahkan orang lain.
  30. Kecepatan dalam mengevaluasi, senang dengan umpan balik, tindakan perbaikan ketika terjadi kesalahan.
  31. Sangat sengang dan selalau berupaya untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dengan banyak pelatihan, belajar, bertanya, magang serta terus dan terus mencoba…
  32. Ucapan ”Bismillah” bukan basa basi, berarti sekarang juga mulai tidak ada kata tunda.
  33. Mengambil inisiatif, tidak ikut ikutan,  menunggu si fulan, menunggu disuruh, diarahkan, atau ditegur.
  34. Siap tempur dengan musuh bebuyutan, kangker ganas, yaitu kata  “tunda”
  35. Bekerja keras, banting tulang, peras keringat, jungkir ballik, ulet, tekun, sabar, pantang mengeluh dan tidak lebay
  36. Melihat setiap ada masalah pasti ada peluang, setiap ada kesulitan pasti akan muncul kemudahan.
  37. Berupaya mengatasi dan menyelesaikan kesulitan dan persoalan-persoalan nya sendiri.
  38. Memperbaiki kerusakan kecil di rumahnya sendiri, seperti atap bocor, keran rusak, lampu mati, saklar rusak, dan sebagainya
  39. Tidak ada waktu yang lost control walau satu detik, semua sudah direncanakan. Sekecil apapun harus bekerja, tidak boleh berhenti, kecuali memang waktu istirahat dan kebutuhan darurat.
  40. Bukan entrepreuneur namanyaa jika dalam hari hari masih ada kata “ Bingung apa yang harus dikerjakan” atau memang tidak teragenda sebelumnya jadi bingung. Nah loh..?
  41. Wirausahawan berarti juga seorang  “visioner” ciri yang sangat jelas adalah “Kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”. Sangat aneh jika masih banyak hiburannya.
  42. Hidup berencana, berarti punya buku agenda harian bertanggal.
  43. Peka dan peduli terhadap keadaan diri  dan lingkungan sekitar’
  44. Cinta kebersihan, keindahan diri, rumah, lingkungan dan mengajak orang lain..
  45. Penghematan dalam segala hal  termasuk listrik, air, gas dan sebagainyal.
  46. Menyiapkan segala resiko yang akan dihadapi,  terpahit sekalipun.
  47. Tujuan dan proses sama pentingnya sehingga tidak menyepelekan keduanya.
  48. Tawakkal penuh, pasrah total, du’a senjata utama, Berbaik sangka keapada Allah.
  49. Sehingga tidak ada kamus, nyerah, kapok, bosen, bt, berhenti, letih dan sebagainya.
  50. Modal Utama dalam bisnis bukan “uang”  tetapi keyakinan, kreatifitas, kerja keras, koneksi dan jaringan..
  51. Memulai dari modal seadanya, akal fikiran, panca indra, keterampilan, saran dan fasilitas disekitar kita, SDA dan SDM disekitar kita, jaringan yang sudah kita miliki.

Itulah langkah-langkah awal (dasar) yang harus dikerjakan dan dipenuhi jika mereka ingin menjadi seorang wirausahawan muslim sejati. Kalau mau lebih cepat dengan langkah berikutnya boleh saja asal langkah-langkah awal (dasar) ini tidak ditinggalkan. Penulis yakin jika langkah-langkah awal ini semuanya dilaksanakan, insyaAllah kemungkinan besar akan berhasil menjadi wirausahawan muslim sejati.

Jangan berbasa basi dengan ucapan “bismillaah”, jika Anda mengucapkan kalimat basmalah, berarti tidak ada kata “tunda” lagi. Selamat mencoba, semoga Anda menjadi orang sukses dunia akhirat. Amin

Pimpinan Assyifa Boarding School ini juga aktif sebagai aktivis sosial. Mendedikasikan hidupnya dan keluarganya untuk memberikan manfaat pada banyak orang. Telah dikaruniai 6 orang anak.

Nabi Juga Seorang Enterpreneur

Leave a comment

Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”

Rahasia keberhasilan dalam perdagangan adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi contoh yang terbaik untuk menjadi pedagang yang berhasil. Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad telah berdagang –sebagai agen Khadijah- ke Syria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lainnya. Dalam perdagangan-perdagangan ini, Muhammad mendapatkan keuntungan yang melebihi dugaan. Tidak sepeser pun yang digelapkan dan tidak sesen pun yang dihilangkan oleh Nabi.

Banyak agen yang sebelumnya bekerja dengan Khadijah, namun tak seorangpun yang bekerja lebih memuaskan dibandingkan dengan Muhammad. Rasulullah memiliki sifat jujur, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang yang luar biasa sampai-sampai Khadijah jatuh hati kepadanya. Jika tidak karena pribadi Muhammad yang luar biasa, tidak mungkin seorang perempuan kaya raya seperti Khadijah memberanikan diri untuk melamar Muhammad.

Sudah kita kenal bahwa perdagangan (berwirausaha) merupakan induk keberuntungan. Sejarah bangsa-bangsa di dunia juga memperlihatkan bagaimana dengan berdagang dan berniaga, orang bisa menjadi kaya dan bangsa-bangsa tersebut mendapatkan wilayah yang sangat luas diseluruh dunia. Dengan demikian, perdagangan merupakan pertanda baik bagi kesejahteraan yang menjadi tulang punggung untuk memperoleh kekayaan. Nabi pernah berkata: ”Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.”

Didalam Al Quran juga dipertegas oleh Allah: ”Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS An Naba’ : 11)Ini merupakan petunjuk untuk berdagang dan beberapa bentuk kegiatan lain agar seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-harinya. Allah dalam Al Quran juga memberikan motivasi untuk berdagang pada ayat berikut: ”Tidak ada dosa atas kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuhanmu” …”Bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah rahmat Allah.” (Qs. Al Jumu’ah: 60). ”Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275). Rasulullah bersabda: ”Mencari penghasilan halal merupakan suatu tugas wajib.”

Abu Bakar As Shidiq, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang pakaian. Umar bin Khattab, pemimpin kaum beriman sang penakluk kekaisaran Persia dan Byzantium memiliki usaha dagang Jagung. Usman memiliki usaha memiliki usaha dagang bahan pakaian. Imam Abu Hanifah memiliki usaha dagang bahan pakaian. Kaisar Mughal yang Agung Aurangzeb dari India makan dari penghasilan cangkir-cangkir buatan tangannya sendiri. Ketika para pengikut nabi hijrah ke Madinah bersama-sama Nabi, mereka dinasehati oleh Rasul agar berdagang untuk penghidupan mereka. Banyak lagi contoh yang membuktikkan bahwa setiap Muhajjir yang saleh telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkahnya sehari-hari. Wallahua’lam

Oleh: Edo Segara – Yogyakarta
CEO Youth EnterPrise (Publishing, Ritel & Waralaba)

Sumber dikutip dari : http://www.fimadani.com

Kunci Sukses Mengais Rezeki

Leave a comment

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin

Masalah rezeki merupakan salah satu perkara yang banyak menyita perhatian manusia, sehingga ada sebagian yang menjadi budak dunia. Bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan menyempitkan peluang dalam mengais rezeki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam, tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian aturan Islam, terutama berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram. Padahal Sang Khalik mensyariatkan agamaNya bukan hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara akhirat saja, tetapi sekaligus menjadi pedoman sukses di dunia juga, seperti doa yang sering dipanjatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka. [Al Baqarah:201]

Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika cara sukses mengais rezeki, membukakan pintu kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah, sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani.

PUJIAN KEPADA ORANG YANG MENCARI NAFKAH
Allah hanya menghalalkan usaha yang bersih dan mengharamkan usaha yang kotor. Seorang muslim tidak boleh menghalalkan segala cara dalam mengais rezeki, lantaran demi mengejar keuntungan semu yang memikat serta menggiurkan.

Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya hidup dan perilaku manusia, bahkan menentukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Wahai, manusia! Sesungguhnya Allah Maha Bersih, tidak menerima kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para utusanNya, maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al Mukminun : 51].

Dan Allah berfirman (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah”. [Al Baqarah : 172].

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah seseorang yang sedang bepergian sangat jauh, berpakaian compang-camping, berambut kusut, mengangkat tangan ke atas langit tinggi-tinggi dan berdoa: “Ya, Rabbi! Ya, Rabbi!” sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan darah dagingnya tumbuh dari yang haram; maka bagaimana terkabul doanya?[1]

Berlomba secara sehat dalam mengais rezeki tidak tercela, asalkan dengan menempuh cara yang benar dan usaha yang halal. Bahkan beribadah sambil berusaha pun diperbolehkan, Allah berfirman (artinya) : “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat”. [Al Baqarah : 198].

Abu Umar Ibnu Abdul Bar berkata: “Setiap harta yang tidak menopang ibadah kepada Allah, dan dikonsumsi untuk kepentingan maksiat serta mendatangkan murka Allah, tidak dimanfaatkan untuk menunaikan hak Allah dan kewajiban agama, maka harta tersebut tercela. Adapun harta yang diperoleh lewat usaha yang benar sementara hak-hak harta ditunaikan secara sempurna, dibelanjakan di jalan kebaikan untuk meraih ridha Allah, maka harta tersebut sangat terpuji”. [2]

Allah berfirman (artinya) : “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. ” [Al A’raaf:10].

Ibnu Katsir berkata: “Allah mengingatkan kepada seluruh umat manusia tentang karuniaNya (yang) berupa kehidupan yang mapan di muka bumi, dilengkapi dengan gunung-gunung yang terpancang kokoh, sungai-sungai yang mengalir indah, dan tanah yang siap didirikan tempat tinggal dan rumah hunian, serta Allah menurunkan air hujan berasal dari awan. Dan Allah juga memudahkan kepada mereka untuk mengais rezeki dan membuka peluang maisyah (penghidupan) dengan berbagai macam usaha, bisnis dan niaga; namun sedikit sekali mereka yang mau bersyukur”.[3]

Allah berfirman. (artinya) : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah : 10].

Tentang makna firman Allah “maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” Imam Al Qurthubi menjelaskan : “Apabila kalian telah menunaikan shalat Jum’at, maka bertebaranlah kamu di muka bumi untuk berdagang, berusaha dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupmu”. [4]

Nabi juga pernah mengatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas: “Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, (itu) lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan menjadi beban orang lain”.[5]

Dari Ayyub, bahwa Abu Qilabah berkata: “Dunia tidak akan merusakmu selagi kamu masih tetap bersyukur kepada Allah,” maka Ayyub berkata bahwa Abu Qilabah berkata kepadaku: “Wahai, Ayyub! Perhatikan urusan pasarmu dengan baik, karena hidup berkecukupan termasuk bagian dari sehat wal afiat”.[6]

Yusuf bin Asbath berkata, bahwa Sufyan Ats Tsauri berkata kepadaku: “Aku meninggalkan harta kekayaan sepuluh ribu dirham yang nanti dihisab oleh Allah, lebih aku cintai daripada aku hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.[7]

Beberapa atsar (riwayat) dari para ulama mulia di atas, menepis anggapan bahwa mencari nafkah dengan cara yang benar agar hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain merupakan cinta dunia yang menodai sikap kezuhudan. Padahal tidaklah demikian. Abu Darda’ berkata: “Termasuk tanda kefahaman seseorang terhadap agamanya, adanya kemauan untuk mengurusi nafkah rumah tangganya”.[8]

ISLAM MENCELA PEMALAS DAN PEMINTA-MINTA
Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup dengan orang lain. Sebaliknya, Al Qur’an sangat memuji orang yang bersabar dan menahan diri tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan. Allah berfirman (artinya) : “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. [Al Baqarah : 273].

Imam Ibnul Jauzi berkata: “Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja, melainkan berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakkal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan buat orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa, kecuali kepada orang yang hina dan gelandangan. Sebab, orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakkal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Boleh jadi seseorang tidak memiliki harta, tetapi masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha”.[9]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri tidak meminta-minta. Dari Tsauban, (ia) berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَكَفَّلَ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ َفَقُلْتُ أَنَا فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا

“Barangsiapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apapun kepada seseorang, maka aku akan menjamin dengan surga. Aku berkata: “Saya.” ِMaka ia selama hidupnya tidak pernah meminta-minta kepada seseorang suatu kebutuhan apapun”. [10]

Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, semangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain. Sebab, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri, merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam. Ditegaskan dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Umar, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun”. [11]

Agama Islam mengajak umatnya agar bersikap mandiri dalam hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa agar kita berlindung dari sifat malas, lemah, tidak berdaya, pengecut, bakhil dan menjadi beban orang lain.

عَنْ أَنَس ابنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله يَقُوْلُ فِي دُعَائِهِ : اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبُنِ وَالْبُخْلِ وَاْلَهَرَمِ وَالْقَسْوَةِ وَاْلغَفْلَةِ وَالْعَيْلَةِ وَالذِّلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ وَأُعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ وَالْفُسُوْقِ وَالشَّقَاقِ وَالنِّفَاقِ وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ وَالْـبَكَمِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ وَسَيئِّ اْلَأسْقَامِ .

“Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah selalu membaca dalam doanya: “Ya, Allah! Aku berlindung diri kepadaMu dari tidak berdaya, malas, pengecut, bakhil, lanjut usia, kekerasan hidup, lalai, melarat, kehinaan, dan kerendahan. Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan, kekufuran, kefasikan, kesesatan, kemunafikan, sum’ah dan riya’. Dan aku berlindung kepadaMu dari penyakit tuli, bisu, penyakit kusta, penyakit kulit dan seluruh penyakit yang buruk”.[12]

Sikap malas, hidup yang hanya menjadi beban orang lain dan meminta-minta merupakan perbuatan yang sangat dibenci Islam. Oleh karena itu, seorang muslim harus rajin bekerja dan bersungguh-sungguh berusaha. Meninggalkan anak cucu dalam kondisi berkecukupan lebih baik dari pada mereka hidup terlunta-lunta menjadi beban orang lain, seperti disebutkan dalam firman Allah. (artinya) : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. [An Nisaa’:9].

Imam Al Baghawi berkata, bahwa yang dimaksud dengan “dzurriyatan dhiafan” adalah anak-anak yang masih kecil, yang dikhawatirkan tertimpa kefakiran.[13]

Ali bin Abu Thalhah berkata, bahwa Abdullah Ibnu Abbas berkata: “Ayat di atas turun untuk seseorang saat menjelang ajalnya berwasiat yang merugikan ahli warisnya. Maka Allah menganjurkan kepada orang yang mendengar wasiat tersebut agar bertakwa kepada Allah dan mengarahkan kepada wasiat yang benar dan lurus. Dan hendaknya orang tersebut prihatin terhadap kondisi ahli warisnya, jangan sampai mereka terlantar dan menjadi beban orang lain sepeninggalnya”.[14]

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqas. Saad bertanya: “Wahai, Rasulullah! Saya orang yang banyak harta, sementara saya tidak punya ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Bolehkah saya berwasiat dengan dua pertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan setengah hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan sepertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Boleh dengan sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak,” Kemudian Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan, menjadi beban orang lain. Dan sungguh tidaklah kamu memberi nafkah, kecuali menjadi sedekah buatmu hingga satu suapan yang kamu berikan kepada isterimu.” [15]

Berusaha dengan sungguh-sungguh sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Bekerjalah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu terjadi pada kamu, maka jangan katakan “seandainya aku melakukan hal ini dan itu, pazti begini”. Namun katakan “Allah telah menetapkan dan apa yang telah Dia kehendaki, maka Dia kerjakan”. Karena, kata “seandainya” itu adalah peluang setan. [HR Muslim]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Seandainya ada seseorang di antara kalian mencari seonggok kayu bakar lalu dipanggul (ke pasar untuk dijual), lebih baik daripada meminta kepada seseorang, terkadang diberi dan terkadang tidak”.[16]

Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai ahli qira’ah. Berlombalah dalam kebaikan, dan carilah karunia dan rezeki Allah, dan janganlah kalian menjadi beban hidup orang lain”.[17]

Said bin Musayyib berkata: “Barangsiapa berdiam di masjid dan meninggalkan pekerjaan, lalu menerima pemberian yang datang kepadanya, maka (ia) termasuk mengharap sesuatu dengan cara meminta-minta”.[18]

Abu Qasim Al Khatli bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa pendapat anda terhadap orang yang hanya berdiam di rumah atau di sebuah masjid, lalu berkata ‘aku tidak perlu bekerja karena rezekiku tidak akan lari dan pasti datang’?” Maka beliau menjawab: “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu. Apakah (ia) tidak mendengarkan sabda Rasulullah : “Allah menjadikan rezekiku di bawah kilatan pedang (jihad)’ “[19]

Sahl bin Abdullah At Tustari berkata,”Barangsiapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti telah membuat kerusakan dalam Sunnah.”[20]

BEKERJA DALAM PANDANGAN ULAMA SALAF
Ada sebagian orang menyangka, bahwa sikap tawakkal menafikan berbagai macam bentuk usaha dan ikhtiar. Padahal, hukum bekerja terkadang wajib, sunah, mubah, makruh ataupun haram, tergantung pada hakikat dan tujuan pekerjaan tersebut.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah manusia yang paling bertawakkal, namun Beliau tetap bekerja; baik dengan pergi ke medan perang maupun berniaga di pasar untuk mencari nafkah, hingga orang-orang kafir berkomentar sebagaimana firman Allah (artinya): Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia”. [Al Furqan : 7].[21]

Usaha yang menentukan tegaknya pondasi kehidupan manusia, hukumnya fardhu ‘ain. Sedangkan usaha yang menentukan kehidupan secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah. Sehingga, seluruh bentuk aktifitas untuk mendirikan perusahaan dan perindustrian yang menjadi penopang sendi ekonomi umat secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah.[22]

Usaha dalam Islam dibatasi dengan dua perkara; ikhlas dan ittiba’ (mengikuti Rasulullah). Maka usaha yang dilakukan oleh seorang muslim hanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan dilakukan secara benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah. Oleh sebab itu, kebenaran sebuah usaha tentu saja dilihat dari kesesuaian usaha tersebut dengan syariat. Allah tidak akan memberikan pahala pada satu amalan, kecuali ditujukan untuk mengharap ridhaNya.

Sikap zuhud dan tawakal kepada Allah tidak berkonotasi sebuah aksi pengangguran dan penyandaran nasib hidup kepada orang lain. Sebab, segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah bisa merusak aqidah dan akhlak, serta merupakan kebiasaan yang tercela. Tidak ada satu dalil pun yang mengajak umat manusia meninggalkan usaha mencari rezeki dan ikhtiar dengan alasan zuhud dan tawakkal.

Allah tidak melarang hambaNya untuk berusaha, bahkan Allah mencintai segala bentuk usaha asal sesuai dengan kaidah dan prinsip agama. Tidak ada alasan untuk mencela jalur-jalur usaha yang halal, tetapi yang tercela adalah usaha yang haram, atau melalaikan ibadah kepada Allah sebagaimana firman Allah (artinya): “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah”. [An Nur :37].

Imam Ibnul Jauzi berkata,”Sebagian orang salah dalam memahami tawakkal. Mereka menyangka, malas bekerja dan berpangku tangan sebagai bentuk tawakkal. Padahal, tawakkal merupakan perbuatan hati yang tidak menafikan gerakan tubuh untuk berusaha. Jika seorang yang rajin bekerja dianggap tidak bertawakkal, maka para nabi termasuk orang-orang yang tidak bertawakkal. Sementara Nabi Adam bertani, Nabi Nuh dan Zakaria bertukang, Nabi Sulaiman pembuat anyaman dari daun kurma, Nabi Daud pembuat baju perang, Nabi Musa, Syuaib dan Nabi Muhammad penggembala kambing.” [23]

SIKAP SEIMBANG DALAM MENCARI NAFKAH DAN MENUNTUT ILMU
Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk beribadah. Sementara itu, ibadah tidak akan terealisasi kecuali dengan badan yang sehat. Dan badan sehat diperoleh dari makan yang cukup. Maka Allah menjadikan makanan sebagai pelengkap ibadah.[24]

Abu Hamid Al Ghazali berkata,”Semua hamba Allah dituntut bertemu dengan Rabb-nya dengan membawa pahala. Dan tidak mungkin semua itu tercapai, kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dua pilar dasar, yaitu ilmu dan amal, tidak mungkin terwujud kecuali dengan badan sehat. Dan makanan sebagai sarana utama meraih badan sehat; maka Allah berfirman.(artinya) : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[Al Mukminun:51].[25]

Ilmu dan amal, dalam pandangan Ahli Sunnah merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Bila dua pilar tersebut telah mengakar dalam pribadi seorang muslim, maka akan terpancarlah hidayah dan ketakwaan sebagai pondasi dasar dan bekal utama meretas usaha dan profesi, sehingga Allah menjadikan ketakwaan sebagai ladang keberkahan dan pintu kesuksesan dalam berbagai bentuk usaha. Menjadi kunci penyelesaian bagi seluruh problem kehidupan, sebagaimana firman Allah

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka”. [Ath Thalaq : 2-3].

Di dalam tafsirnya, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari seluruh problem kehidupan dan memberi rezki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Yakni, dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan ambillah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram)”. [HR Al Hakim].

Seorang muslim yang bertakwa sangat dituntut untuk berlaku seimbang dalam mencari ilmu dan mencari nafkah. Jika kekuatan ilmu dan kekuatan harta bersinergi secara baik, maka akan melahirkan sebuah kekuatan dahsyat dan pengaruh yang positif dalam proses dakwah dan kebangkitan umat. Dengan begitu, segala kemunduran dan kehinaan yang menimpa umat mampu teratasi.

Menurut pandangan Ahli Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dikotomi antara mencari ilmu dengan mencari nafkah, bahkan keduanya harus saling mendukung. Oleh sebab itu, tidak benar bila berkembang wacana bahwa orang yang mencari ilmu tidak perlu memikirkan urusan maisyah (mata pencaharian/pekerjaan), dan sebaliknya, orang yang mencari nafkah tidak perlu mengganggu profesinya dengan menuntut ilmu agar tidak merusak kariernya. Hal itu sebuah paradigma yang keliru dan anggapan yang menyesatkan, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. (artinya) : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77].

Ayat yang mulia di atas memiliki makna, pergunakanlah harta kekayaanmu dan kenikmatanmu yang melimpah, yang telah diberikan kepadamu sebagai pemberian dan karunia Allah untuk menunaikan ketaatan dan kebaikan yang bisa mendekatkan dirimu kepadaNya. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan hubungan biologis, karena Rabb-mu memiliki hak atasmu dan dirimu memiliki hak atasmu. Keluargamu mempunyai hak atasmu, dan kekuatan tubuhmu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah masing-masing hak sesuai dengan porsinya.[27]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. HR Muslim dalam Kitab Zakat; At Tirmizdi, Ad Darimi dan Ahmad dalam Musnad-nya.
[2]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 26.
[3]. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hlm. 282.
[4]. Tafsir Al Qurthubi, Juz 9, hlm. 71. Dan lihat Tafsir Al Baghawi, Juz 8, hlm. 123.
[5]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), Tirmidzi (2116), Nasai dan Ibnu Majah.
[6]. Diriwayatkan Abu Nuaim dalam Al Hilyah (2/286) dan Abu Hamid Al Ghazali dalam Ihya’ (2/62).
[7]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, Juz 2, hlm. 33.
[8]. Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Ishlahul Mal, hlm. 223; Ibnu Abi Syaibah (34606) dan Al Baihaqi dalam Asy Syuab (2/365).
[9]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.
[10]. HR Abu Daud. Imam Nawawi berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang sahih.
[11]. HR Bukhari, Muslim, dan Nasai dalam Sunan-nya.
[12]. HR Al Hakim dalam Mustadrak, dan beliau berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim (1944) ,dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (1019)”.
[13]. Tafsir Maalimut Tanzil, Al Baghawi, Juz 2, hlm. 170. Lihat juga tafsir Al Qurthubi, Juz 4, hlm. 35.
[14]. Tafsir Ath Thabari, Juz 4, hlm. 181.
[15]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), At Tirmidzi (2116), An Nasai dan Ibnu Majah.
[16]. Muttafaqun ‘alaih.
[17]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 35.
[18]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 300.
[19]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 302.
[20]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299.
[21]. Tahdzib Syarah Thahawiyah, hlm. 301.
[22]. Mala Yasa’ut Tajir Jahluhu, Prof. Dr. Abdullah Muslih. hlm. 78.
[23]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299.
[24]. Ahkamul Ath’imah Fisyariatil Islamiyah, Dr. Abdullah bin Muhammad Ath Thuraiqi, hlm. 30.
[25]. Lihat Ihya Ulumuddin, Juz 2/3 dengan tahqiq Al Allamah Zainuddin Al Iraqi.
[26]. Tafsir Ibnu Katsir (4/400).
[27]. Lihat Tafsir Ath Thabari (20/71), Tafsir Al Baghawi (6 / 221) dan Tafsir Ibnu Katsir (5 / 129).

Sumber dari : http://almanhaj.or.id/content/2770/slash/0/kunci-sukses-mengais-rezeki/

Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar

Leave a comment

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah.

“AJIMAT ROJO BRONO: Suatu ritual khusus yang apabila Anda menjalankan dengan benar, insyaAllah dalam waktu 3 hari Anda akan segera mendapat rizqi, untuk menambah modal atau melunasi hutang tanpa tumbal. Mahar kesepakatan”.

“GOMBAL GENDERUWO: Usaha seret, atau sering tertipu, banyak saingan, untuk apa bingung. Dengan ajimat Gombal Gendruwo bisnis akan kembali lancar, disegani dan dapat menetralkan kekuatan jahat yang ingin merusak. Mahar kesepakatan”.

Demikian tawaran pelancar rizki dalam sebuah iklan yang dipasang salah satu ‘Gus’ yang memimpin sebuah “Padepokan Ilmu Hikmah dan Seni Pernafasan Tenaga Dalam” di kota Malang.[1]

“Sarana spiritual kerezekian yang ada di majelis kami biasa dinamakan Bukhur Qomar. Untuk mendapatkan dayanya: tanamlah Bukhur Qomar di tempat usaha, lalu baca Sholawat Nariyah 11 x bakda subuh, untuk lafal Kamilatan dibaca 41 x. InsyaAllah dalam waktu tidak lama anda akan berhasil”.

Demikan jawaban seorang ‘Gus’ pemimpin sebuah “Majlis Taklim wa Dzikr” di Semarang, tatkala ditanya dalam sebuah rubrik “Konsultasi Gaib” tentang piranti pembuka rizki.[2]

Dua contoh di atas merupakan segelintir dari puluhan bahkan mungkin ratusan tawaran pembuka pintu rizki yang ada di media massa. Belum jika kita mau mencermati tawaran-tawaran pelancar lainnya yang ada di media elektronik dan dunia maya.

Yang jadi pertanyaan:

Bisakah para pelaku penawaran di atas mendatangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits -yang merupakan pedoman hidup umat Islam- sebagai landasan dari amaliah atau ajian yang mereka obral? Ataukah Islam tidak menyentuh permasalahan rizki serta melewatkan hal penting tersebut dari sorotannya?

Seorang muslim yang cerdas, tentunya akan memilah dan memilih apa yang ia baca, melihat dan mendengar, serta memfilter hal-hal yang tidak memiliki landasan syar’i dari yang mempunyainya. Dia sadar betul bahwa hidupnya di dunia hanyalah sekali, sehingga tidak akan sembarangan tatkala menempuh suatu langkah atau mengambil suatu keputusan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan nasibnya di akhirat kelak.

Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.

Di antara tuntunan yang ditawarkan untuk menggapai tujuan tersebut: memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.

Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.

Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.

Adapun dalil dari Sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:

“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Maka silahkan perbanyaklah istighfar, serta tunggulah buahnya… Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada di kantor, ketika menunggu dagangan di toko, saat menunggu burung di sawah dan lain sebagainya..

Catatan penting:

1. Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Astaghfirullâh. HR. Muslim. [3]

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.

HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.[4]

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.[5]

Redaksi terakhir ini kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam merupakan sayyidul istighfar atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.

2. Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu. Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum shallallahu’alaihiwasallam.

3. Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinya berupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya,

“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”

“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.

Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, amien.

Wallahu ta’ala a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

@ Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1431 H / 21 Maret 2010 M

Catatan Kaki

[1] Lihat: Tabloid Posmo edisi 566, 24 Maret 2010 (hal. 04).

[2] Periksa: Ibid (hal. 14).

[3] Redaksi lengkap haditsnya:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.

[4] Redaksi lengkap haditsnya adalah:

“مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ”

Barangsiapa mengucapkan “Astaghfirullahal azhim alladzi la ilaha illah huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih” niscaya akan diampuni walaupun lari dari medan perang”.

[5] Redaksi lengkap haditsnya sebagai berikut:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ” إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ, وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ”.

Dari Syaddad bin Aus, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Istighfar yang paling istimewa adalah: “Allôhumma anta robbî lâ ilâha illâ anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya wa abû’u laka bidzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, a’ûdzubika min syarri mâ shona’tu” (Ya Allah, Engkaulah Rabbku itdak ada yang berhak disembang melainkan diriMu. Engkau telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu dan aku akan setia di atas perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku mengakui nikmat-Mu untukku dan aku mengkaui dosaku. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan diri-Mu. Aku memohon perlindungan dari-Mu dari keburukan perbuatanku). Andaikan seorang hamba mengucapkannya di sore hari kemudian ia mati maka akan masuk surga atau akan termasuk penghuni surga. Dan jika ia mengucapkannya di pagi hari lalu meninggal maka ia akan mendapatkan ganjaran serupa”.

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA
Artikel www.tunasilmu.com, dipublish ulang oleh www.muslim.or.id

Sumber : Dari artikel ‘Membuka Pintu Rizki dengan Istighfar — Muslim.Or.Id

Persembahan Sempurna & Warisan Heynckes

Leave a comment

Nama Jupp Heynckes kini memenuhi setiap pemberitaan media olahraga dunia usai mengantar Bayern Munich menjadi jawara Eropa musim 2012-13. Tampil untuk yang kedua kalinya dalam dua musim beruntun, Munich berhasil membalaskan dendam kegagalan masa lalu yang ditaklukkan Chelsea melalui drama adu penalti.

Wembley menjadi saksi betapa digdayanya Die Roten menghadapi Borussia Dortmund. Namun, Dortmund bukan tanpa perlawanan, ada sajian menarik lagi menghibur pada partai final Liga Champions, Minggu (26/5) dini hari lalu WIB. Penuh determinasi, cepat, saling serang, skill tinggi, dan tampil ngotot, mungkin itulah sedikit gambaran mengenai laga bertajuk Der Klassiker itu.

Sekali lagi, aktor di balik kesuksesan Munich musim ini ialah pria yang lahir di Utara Sungai Rhine, tepatnya di Kota Mönchengladbach, Jerman 68 tahun silam. Wajar rasanya bila Heynckes kini menuai berbagai pujian, dan dianggap sebagai tokoh penting Munich.

Mantan pelatih tim nasional (Timnas) Inggris, Steve McClaren dalam wawancaranya bersama BBC belum lama ini menegaskan sukses Munich tak lepas dari strategi brilian pelatih yang pernah membela Timnas Jerman Barat (1967-1976) itu.

“Tim (Munchen) memang luar biasa tetapi orang yang berhak menerima semua pujian adalah pelatih Bayern Munchen, Jupp Heynckes. Dia telah mengubah tim ini sepenuhnya, dia bisa membuat tim yang cocok,” tutur McClaren belum lama ini.

“Jupp Heynckes telah membangun kembali tim (Munich) ini untuk bersaing. Bayern tidak dalam kondisi terbaik mereka, tapi mereka tahu bagaimana cara untuk menang. Heynckes juga mengetahui caranya mengalahkan Barcelona di semifinal,” sambungnya.

Kehadiran kembali (sebelumnya musim 1987–1991, 2009 -interim) Heynckes di Allianz Arena dua musim lalu terbukti mampu membangkitkan gairah juang Raksasa Bavaria. Meski tak mampu mempersembahkan Munich gelar juara pada musim perdananya, namun Heynckes berhasil membawa Munich menjadi runner-up di tiga kompetisi berbeda, Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Champions.

FC Hollywood pun berpotensi merengkuh treble, sekaligus menjadi yang pertama dalam catatan sejarah klub dan klub asal Jerman pertama yang mampu merengkuh prestasi tersebut. Untuk merealisasikan hal itu, Munich hanya perlu mengalahkan Stuttgart di pentas lokal DFB Pokal, Juni (2/6) mendatang.

Heynckes pun berhak mendapat predikat sebagai salah satu pelatih hebat di muka bumi ini. Pasalnya, Heynckes berhasil menjadi pelatih yang meraih trofi “Big Ears” di dua klub berbeda, Real Madrid 1997-98 dan Bayern Munich 2012-13.

Sebelumnya tercatat Ernst Happel yang berhasil melakukan hal serupa bersama Feyenoord (1969-70) dan Hamburg SV (1982-83), Ottmar Hitzfeld bersama Borussia Dortmund (1996-97) dan Bayern Munich (2000-01), serta Jose Mourinho saat menukangi FC Porto (2003-04) dan Inter Milan (2009-10).

Di bawah tangan dingin Heynckes Munich bukan hanya menjelma menjadi raksasa Bundesliga melainkan juga raksasa Eropa! Berada di dalamnya sejumlah pemain “tanpa ampun” macam Bastian Schweinsteiger, Philpp Lahm, Arjen Robben, Thomas Muller, Javi Martinez, dan Mario Mandzukic.

Ditambah aksi tenang Manuel Neuer di bawah mistar gawang, dan skill seimbang yang dimiliki para pemain substitusi, seperti: Mario Gomes, Xherdan Shaqiri, Claudio Pizarro, Daniel van Buyten. Hasilnya? Munich tak terkalahkan!

Sementara di pentas Bundesliga, Munich juga tampil gemilang dengan hanya mencatatkan satu kali kekalahan dari 34 laga musim ini dengan mengemas 91 poin, sekaligus mengudeta posisi Dortmund musim lalu dan membawa unggul 25 poin atas pasukan Jurgen Klopp itu.

Trofi Bundesliga dan Liga Champions, dan mungkin DFP Pokal akan menjadi persembahan sempurna Heynckes yang resmi meninggalkan Munich musim panas nanti, sekaligus menjadi warisan bagi pelatih selanjutnya, Josep ‘Pep’ Guardiola.

Jelas ini akan menjadi pekerjaan yang tidak mudah bagi pria asal Spanyol itu. Pertanyaan selanjutnya adalah, akankah permainan cepat Munich berubah dengan gaya yang kerap diusung Guardiola saat menukangi Barcelona atau justru mengolaborasi keduanya? Menarik untuk disaksikan.

Mantan pelatih Barcelona itu akan memulai pengalaman perdananya bersama Munich saat partai UEFA Super Cup kontra Chelsea. Laga nanti diyakini akan memunculkan kembali rivalitas klasik antara Guardiola dengan Mourinho yang rumornya akan kembali menukangi The Blues.

Auf Wiedersehen Heynckes, Willkommen Guardiola!

Sumber : http://bola.okezone.com/read/2013/05/27/262/813093/persembahan-sempurna-warisan-heynckes

TIPS BETERNAK KENARI

Leave a comment

Dalam beternak kenari ada beberapa factor yang harus diperhatikan yaitu usia kenari, jenis kelamin, sarana penunjang ternak dan ilmu tentang ternak.

*BETERNAK KENARI

Usia menjadi factor penentu berhasil atau tidaknya dalam beternak kenari, usia yang terbaik dalam beternak adalah jangan terlalu muda atau jangan terlalu tua. Kenari siap ternak minimal 6 bulan untuk kenari betina dan 8 bulan untuk kenari jantan, tetapi untuk kenari besar seperti Yorkshire dan turunannya sedikit lambat birahi minimal usia 1 tahun.

*JENIS KELAMIN

Anda sebagai peternak harus menguasai ciri-ciri kenari jantan atau betina, dalam menentukan jenis kelamin kenari cukup sulit bagi pemula tetapi bagi hobis senior sangat mudah menentukannya mereka cukup melihat dari postur tubuh kenari walaupun dalam kasus tertentu Kadang-kadang ada kenari yang sangat sulit ditentukan jenis kelaminnya.

* SARANA PENUNJANG

Kadang-kadang kita dalam beternak tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti posisi kandang ternak, lingkungan kandang ternak dan saran penunjangnya. Jika hal-hal tersebut kurang diperhatikan akan mengakibatkan kekesalan di kemudian hari. Contohnya pada saat penempatan kandang ternak kita tidak memperhatikan feng shui (he..he.. maaf becanda) lingkungan di sekitar kandang ternak. Penempatan yang terbaik yaitu sangkar atau kandang ternak menempel ke dinding disamping kiri dan kanan sangkar ditutup. Sangkar ternak di tempatkan di daerah yang bebas dari gangguan serangga atau binatang lainnya seperti tikus, cicak dll.

Untuk menghindari dari serangan serangga seperti semut daerah sekeliling sangkar yang menempek ke tembok di kelilingi dengan kapur bagus (kapur ajaib). Jika kandang ternak besar menggunakan kaki maka kaki-kakinya diolesi oli. Sedangkan pengganggu utama selain semut yaitu tikus, tikus sebetulnya hanya mengambil makanan kenari hanya kalau melihat kenari lengah ya di hajar juga dan kejadian ini sering sekali dialami oleh hobis. Dengan penempatan sangkar di dinding diharapkan bisa meminimalkan serangan tikus hanya kadang-kadang tikus juga pintar mencari celah untuk itu anda harus hati-hati dalam penempatan kandang yang terbaik sich menggunakan kandang aluminium. Saya punya pengalaman mengenai kandang ternak yang diserang semuT, beruntung cepat ketahuan sehingga induknya masih tertolong tetapi anaknya sebagian besar mati dan selanjutnya mati semua karena induknya menjadi over protective (mengenai sifat over protective akan saya bahas di waktu yang lain).

* PROSES PENJODOHAN

Jika anda sudah mempunyai sepasang kenari dengan usia siap ternak proses selanjutkan yaitu proses penjodohan. Proses penjodohan yaitu kenari jantan dan betina di tempatkan pada sangkar yang berbeda, dan kedua sangkar tersebut ditempatkan saling berdekatan. Dalam hal ini banyak new comer (peternak pemula) yang tidak sabar menjalani proses penjodohan mereka langsung masukin jantan dan betina kedalam satu kandang.

Dengan adanya proses penjodohan anda akan mengetahui kesiapan kenari tersebut, jika belum jodoh langsung dimasukan ke dalam satu sangkar akibatnya kedua kenari tersebut bisa berantem. Apabila terjadi perkelahian diantara keduanya dan salah satu kenari ada yang kalah maka waktu penjodohan akan lama lagi, terutama jika yang kalah kenari jantan proses penjodohan semakin lama karena anda harus mengkondisikan si jantan agar berani mendekati betinanya. Ada beberapa tip untuk meningkatkan birahi yaitu :

Kenari di beri makanan yang bergizi tinggi seperti telor puyuh, multivitamin dll.
Dijemur setiap pagi
Pada saat menjemur dan proses penjodohan sangkar jantan dan betina digandengkan terus menerus, kalau ada jantan lain sekali-kali dipanas-panasin dengan menggunakan jantan lain.
Disangkar tempat betina disediakan sangkar berikut isinya.
Jangan lupa berdo’a agar kenari yang diternak bisa cepat jodoh dan menghasilkan anak yang berkualitas.

*PROSES PENJODOHAN

Proses selanjutnya yaitu menyatukan kedua kenari tersebut. Adapun ciri-ciri kenari siap ternak (sudah jodoh) yaitu :

pada saat jantan didekatkan dengan betina sijantan akan mengejar/menabrak sangkar dengan bunyi yang kenceng dan betinanya menggelepar-geleparkan sayapnya tanda minta kawin.
Pada saat sore hari atau menjelang tidur kenari betina dan jantan tidur berdekatan.
Sewaktu-waktu antara kenari betina dan jantan saling meloloh makanan.
Jika didalam sangkar betina di dikasih sarang beserta isinya, kenari betina akan menyusun atau merapihkan isi sarang, jika isi sarang sudah disusun biasanya betina siap ternak.
Dalam menyatukan kedua kenari tidak ada aturan waktu yang baku anda boleh kapan saja menyatukannya, hanya pengalaman saya waktu yang terbaik yaitu sore hari. Dengan menyatukan sore hari diharapkan pada malam hari keduanya sudah rukun sehingga pagi harinya sudah jodoh. Karena sudah mengalami masa penjodohan maka pada saat penyatuan tidak terlalu riskan berantem tetapi kita harus terus memantau karena takutnya terjadi berantem.

Setelah keduanya rukun coba perhatikan isi sarang kalau isi sarang kotor maka ganti isi sarang tersebut dan sebagian isi sarang simpan di dasar sangkar biasanya isi sarang didasar sangkar akan dipindah ke dalam sarang. Untuk memperhalus sarang kenari betina biasanya suka mencabuti bulu halus jantannya atau bulu halus dari kenari betina, biasanya jika di dalam sarang sudah ada bulu-bulu halus tandanya tidak lama lagi induk betina akan bertelor. Untuk mempercepat proses bertelor dan mengurangi mencabuti bulu halus pengalaman saya kedalam sangkar dimasukkan kapas secukupnya. Demikian dulu tulisan mengenai proses penjodohan takutnya terlalu kepanjangan……nanti saya lanjutkan dilain waktu…………..

Sumber dari: http://burungkenari.wordpress.com/

Older Entries Newer Entries

%d bloggers like this: